[[Bapak Presiden!! Kalau Bisa Semua Menteri dan DPR Memakai Mobil ESEMKA atau Buatan Indonesia Aja]]]]Wacana penggantian mobil dinas menteri dari Toyota Camry menjadi Toyota Crown Majesta, menuai pro kontra. Anggota DPR beranggapan, rencana ini bisa saja diurungkan namun harus dengan keberanian Presiden.
"Butuh keberanian Presiden apakah mengganti atau tidak. Aparatur negara kan pasti tunduk dengan presiden," ujar Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Eva Kusuma Sundari di DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2009).
Karena, menurut dia, pemerintah juga selayaknya memperhatikan kondisi perekonomian Indonesia. Kalau memang ada pergantian, lanjutnya, semestinya dilihat juga kinerja dari menteri yang bersangkutan.
"Lagi pula jika memang ada pertimbangan tekhnis. Menurut saya, mobil yang lima tahun lalu masih bagus kok dan masih layak dipakai," imbuhnya.
Pertimbangan lain, kata Eva, isu kemacetan yang hingga kini masih menjadi pembicaraan, namun belum menelurkan solusi tepat. "Harus diperhatikan jika, nantinya menambah mobil baru. Mau seperti Jakarta nantinya," pungkasnya.


Suara Dr. Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan SMK, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) terdengar berapi-api. Dalam tuturannya yang runut, Joko berharap, tahun mendatang lulusan Sekolah Menengah Kejuaran (SMK) , bisa menjadi motor penggerak industri dalam negeri. “Kita harus bisa di industri otomotif juga. Makanya, kami menyiapkan sejumlah program untuk membuat mobil nasional. SMK bisa kok!” ujarnya saat ditemui di kantornya, awal Juni lalu.
The first Iranian two-seat plug-in car will be unveiled today.




