Tuesday, March 23, 2010

bmw m3 pictures


bmw m3
bmw m3

bmw m3 pictures
bmw m3 pictures

bmw m3 wallpapers
bmw m3 wallpapers

bmw m3
bmw m3

bmw m3
bmw m3

Lotus Exige S Wallpaper


Lotus Exige S
Lotus Exige S
Lotus Exige S
Lotus Exige S
Lotus Exige S Car
Lotus Exige S
Lotus Exige S Wallpapers
Lotus Exige S

2010 Audi A8 Hybrid Concept Car at The Geneva

At the Swiss international auto show Audi has introduced its new A8 Hybrid. According to the producers, though the vehicle is designed as a concept of the gasoline-electric hybrid version, it is scheduled to enter the mass production next year. Audi revealed today the details of the upcoming A8 Hybrid Concept, set to make its official debut at the Geneva Motor Show.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
Audi fits its largest sedan with a familiar 2.0-liter, turbocharged 4-cylinder engine and then mates it to a 45-horsepower electric motor for a combined 245 system horsepower. A lithium-ion battery pack is stored in the rear. According to Audi, this efficient flagship will accelerate to 60 mph in about 7.5 seconds and reach a top speed of 146 mph. Best of all, the 5-passenger full-size luxury sedan earns the equivalent of nearly 38 mpg on the EPA cycle.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
Power like a big V6, fuel economy like a modest four-cylinder unit - Audi presents the Audi A8 Hybrid Concept as a technology concept at the 2010 Geneva Motor Show. Its two propulsion units - a 2.0 TFSI and an electric motor - develop a total output of 180 kW (245 hp) of system power and 480 Nm (354.03 lb-ft) of torque. This enables the Audi A8 Hybrid to accelerate in 7.6 seconds from zero to 100 km/h (62.14 mph) and to achieve a top speed of 235 km/h (146.02 mph). Yet its average fuel consumption amounts to only 6.2 liters (37.94 US mpg) per 100 km - the CO2 equivalent is 144 grams per km (231.75 g/mile).
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
The combustion engine of the Audi A8 Hybrid Concept is the 2.0 TFSI - a high-tech powerplant. This four-cylinder unit, which has been named "Engine of the Year" five times in a row since 2005, is an example of Audi's downsizing philosophy. It combines direct fuel injection with turbocharging and the AVS Audi valvelift system, which regulates the valve lift in two stages. In combination with the adjustable intake camshaft, the Audi valvelift system improves cylinder charging and ensures spontaneous and powerful torque build-up. The 2.0 TFSI delivers 155 kW (211 hp) and 350 Nm (258.15 lb-ft); the torque value remains constant from 1,500 to 4,200 rpm.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
A hydraulically operated wet clutch links the 2.0 TFSI with the electric motor. Its control requires the utmost precision, and a great deal of know-how has been expended to achieve its smooth, precise and swift operation. The synchronous motor, which is continually excited, also serves as a generator that develops 33 kW (45 hp) of power and 211 Nm (155.63 lb-ft) of torque.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
The energy storage system of the Audi A8 Hybrid Concept is mounted in the rear section. This state-of-the-art lithium-ion battery is more compact and weighs less than other types but is substantially more powerful. It is protected by a high-strength housing, and a ventilation module ensures that it always operated within the ideal temperature range. Yet the Audi A8 hybrid Concept also provides ample luggage space of 400 liters (14.13 cubic feet). Several subsystems that operate on engine power in a conventional car have been modified right from the start for use in the Audi A8 Hybrid Concept. The compressor in the climate control system runs entirely on electric power.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
The power electronics unit manages the interaction of the systems. Its pulse control inverter regulates the interplay of the battery and the electric motor. The DC-DC converter supplies power to users on the onboard network. The power electronics unit, which is connected to the battery and the electric motor by high-voltage cables, is located in the engine compartment. The smooth interaction of these components and their high level of integration attest to the specialized know-how Audi has accumulated. The technology architecture already provides a glimpse of a future production model - the Audi Q5 hybrid, which will be introduced later this year.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
The engine compartment cover with its high-gloss finish and the glass cover of the battery in the trunk also provide visual links to hybrid technology. And the illuminated doorsteps bear the "hybrid" insignia as an elegant touch to underscore the electric aspect whenever the doors are opened - using LED technology to minimize energy consumption.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car
The passengers also see the prominent hybrid logo displayed on the dashboard. Some of the most significant features of the hybrid vehicle include 21-inch, two-color alloy wheels, a special paint job and the so-called “Powermeter”.
2010 Audi A8 Hybrid Concept Car

Pelan Tapi Pasti, Mobnas Akan Terwujudkan

Usaha menciptakan mobil Indonesia dengan harga terjangkau terus berlanjut. Riset menjadi unggulan nasional.

Pagi itu, 18 September 2003, langit di Lingkungan Industri Kecil (LIK) Takaru, Kelurahan Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, terlihat cerah. LIK, yang berdiri sejak 1982 di atas lahan lebih dari 9 hektare, mulai terlihat denyutnya. Ramai dengan suara mesin las, bubut dan gergaji yang menderu. Suara riuh ini seakan menyambut pencanangan proyek kerja sama produksi dan pemanfaatan engine multiguna antara PT Surya Pantura, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Pemerintah Kabupaten Tegal, yang ditandatangani pada hari yang sama.

Berbeda dengan proyek mobil nasional (Mobnas) -diputuskan melalui Inpres No. 2/1996- yang mengimpor langsung produknya dari Korea Selatan, dalam rencananya kali ini, Kamsi Ranosaputro, Direktur Utama PT Surya Pantura, tidak muluk-muluk. Ia ingin melibatkan industri hulu sampai hilir yang ada di Tegal dengan melibatkan ratusan pengusaha kecil yang tergabung dalam Lingkungan Industri Kecil (LIK) Takaru melalui cluster system. Menurut Dinas Perindutrian Perdagangan dan Tenaga Kerja. Kab. Tegal, 2.761 perajin logam akan terserap dalam proyek ini. Rancang bangun mesinnya 100% dikerjakan oleh putra Indonesia. Produknya berupa mobil angkutan ekonomis yang terjangkau bagi dunia usaha. Bekerja sama dengan Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Kamsi menjagokan mesin aluminium mulitiguna 500cc.

Mesin ini dirancang oleh nama yang tak asing lagi di industri otomotif nasional, Suparto Soejatmo, Presiden Direktur PT Indo Tekno Mandiri (ITM). Mantan Direktur Utama PT Timor Distribusi Nasional ini memperoleh bantuan dari DR. Utama H. Padmadinata, Director For Material Technology Center, BPPT dan tim. ITM telah menghasilkan sejumlah mesin yang beberapa di antaranya sudah diproduksi masal.

Mobil Indonesia

Dalam wawancara dengan BusinessWeek Indonesia bulan lalu, Suparto bersemangat mewujudkan proyek ini guna menghadirkan mobil yang bisa dibeli oleh masyarakat. “Mobil Indonesia”, demikian Suparto menyebutnya. Mesin 500cc sengaja dipilihnya,”Supaya tidak head on dengan saudara-saudara tua kita,” tuturnya. Di Indonesia saat ini belum ada mobil yang bermain di kelas 500cc. Pesaing terdekatnya adalah Daihatsu Ceria 600 cc. “Tapi itu di Malaysia. 600cc versi yang paling murah, di sini mereka tidak masuk,” ujar Suparto. Selain cc yang rendah, desain mobil juga dibuat serbaguna. “Sehingga selain bisa untuk mobil penumpang, mobil ini juga bisa dipakai untuk mengangkut produk-produk pertanian,” tuturnya.

Kemampuan Suparto untuk merancang bangun mesin tidak lagi diragukan. Ia sudah merancang 4 buah mesin, diantaranya adalah mesin 1 silinder disel horizontal—yang sudah menjadi prototype dan diproduksi untuk alat pertanian oleh PT Nefa, di Tegal—mesin disel 1600cc dan 1300cc 4 silinder Indirect Injection (IDI) dan mesin disel 5 silinder 2500cc Direct Injection, twin cam, 4 valve yang dilengkapi turbo intercooler, serta mesin motor bensin 2 silinder 500 cc, yang sekarang menjadi proyek unggulan RUSNAS (Riset Unggulan Strategis Nasional) BPPT. “Dengan blok yang sama, mesin itu bisa menjadi mesin disel dengan perubahan yang sangat minor, dan bisa double, ke gas dan bensin,” ujar Suparto.

Kerjasama Suparto dengan BPPT dimulai pada 2001. Saat itu Suparto diundang BPPT untuk menghadiri satu seminar mengenai riset material. Di sana Ia bertemu DR. Utama, Direktur Teknologi Material BPPT. Proyek mesin aluminium yang dikerjakannya mendapat dukungan dari material yang kebetulan telah dikaji BPPT. Posisinya sebagai salah satu Ketua Jaringan Usaha Mandiri Indonesia (JUMI) kemudian membawanya bertemu dengan Menristek Hatta Rajasa dan membuat proyek ini menjadi Riset Unggulan Nasional (RUSNAS).

Menurut Utama, dalam wawancara dengan BusinessWeek Indonesia, program RUSNAS yang dimulai pada 2002 merupakan bentuk dari misi BPPT menjadi agen pembangunan dan mitra terpercaya bagi industri di bidang teknologi. Proses merancang mesin dan membuat prototype engine pertama, telah selesai Desember, 2003. “Kalau dilihat dari siklus mesin, kita tidak mulai dari nol,” ujarnya, karena itu, setelah proses rancang bangun mesin dari PT ITM jadi, “BPPT punya kewajiban untuk mewujudkannya,” tambahnya lagi. Dari prototype pertama, menurut Utama, akan dilakukan modifikasi dan pengujian di Balai Teknologi Thermodinamika Motor dan Propulsi. Pengujian ini meliputi simulasi beban, tanjakan, turunan dan emisi. Setelah itu baru diuji jalan. “Kita sudah ada satu MOU dengan Kancil, yang sekarang menggunakan mesin dari Jepang,” ujarnya.


Rp2,5 miliar

Kementrian Riset dan Teknologi bertanggung jawab atas dana program RUSNAS ini. Pada 2002 BPPT dan ITM telah memperoleh bantuan sebesar Rp500 juta, ditambah Rp1 miliar pada 2003.. Tahun ini, BPPT berencana mengajukan dana sebesar Rp 1 miliar untuk pembuatan prototype tahap ke-2. Dana ini menurut Utama tinggal menunggu persetujuan dari Direktorat Jenderal Anggaran, Departemen Keuangan.

Masalah pendanaan ini pula yang jadi keluhan Suparto. ITM mengajukan dana Rp1,5 milyar untuk rancang bangun prototype kedua,. “Kalau anggarannya ditekan, produksinya akan jelek,” ujar Suparto. Biaya terbesar ada di pengadaan peranti lunak asli yang seharga $70 ribu. Menurut DR. I Nyoman Jujur, Material Engineer, BPPT, apabila dana tersedia, diharapkan target uji tahun ini bisa terlaksana. “Selanjutnya kita akan membuat kira-kira 10 prototipe lagi,” tutur Nyoman. Pada Oktober tahun ini, BPPT akan mencoba mengganti penggunaan bahan bakar bensin dengan bahan bakar gas. “Kita juga mencoba mengganti karburator menjadi injection untuk mengantisipasi aturan pemerintah pada 2005,” tuturnya.

BPPT menargetkan konten lokal di atas 90%. Dengan kondisi ini, menurut Utama, proyek ini bisa bermanfaat bagi industri komponen di Tanah Air dan menciptakan lapangan kerja. “Itulah tujuan utama BPPT, sehingga IPTEK benar-benar bisa teraplikasi ke masyarakat,” ujarnya. Untuk mewujudkannya butuh waktu yang panjang. “Secara bertahap bisa 10 tahun,” ujar Suparto. Ketika mesin sudah jadi semua lalu tergantung pada investor seperti Kamsi. “BPPT bukan investor, mereka membantu kita. Kalau tidak ada BPPT pun kita jalan, tapi pelan-pelan,” ujar Suparto. Dengan adanya BPPT dan RUSNAS proyek ini diharapkan lebih cepat terlaksana.

Kuncinya ada di niat politik pemerintah. Menurut Suparto, harus ada komitmen bersama dari pihak-pihak terkait, termasuk lembaga internasional supaya tidak ada pihak yang merasa dirugikan. “Kita tidak akan minta proteksi. Tapi pemerintah bisa bilang ke WTO untuk mobil 500cc, pajaknya sekian,” ujarnya. Suparto juga tidak takut bersaing. “Saya siap diadu, kalau mesin saya jelek, masak ada orang Iran datang ke saya, juga orang Turki dan China?” tambahnya lagi. Rancang bangun mesin PT ITM, menurut Suparto, selalu memakai standar internasional. “Tapi ada yang saya rubah sehingga cocok dengan iklim yang ada disini,” ujarnya. Mesin 1240 cc, yang dulu dipesan untuk Timor—dan rencananya menjadi proptotype mobil nasional—kini telah jadi dalam bentuk satu unit mobil utuh dan sudah digunakan.

Dari sisi investor, Kamsi menyatakan siap. Walau tidak menyebut angka, PT Surya Pantura menurut Kamsi sudah mengalokasikan dana untuk memproduksi 5000 unit mesin per tahun. Kegiatan pabrikasi untuk proyek otomotif ini, menurut Kamsi, sudah dipersiapkan sejak November tahun lalu dan rencananya dimulai pada Juni tahun ini. Dari sketsa yang diperoleh BusinessWeek Indonesia, mobil ini akan dibuat dengan berbagai varian seperti sedan, pick up, dari mulai yang sederhana hingga yang mewah. Model awal rencananya akan dijual dengan harga di bawah Rp30 juta. Dengan disertai sertifikasi dari BPPT, Deperindag dan Departemen Perhubungan, mobil ini siap mengisi ceruk pasar mobil murah di Indonesia—demi mewujudkan sebuah mimpi, “Mobil Indonesia”.

“ Harus Jadi Prioritas ”
Soehari Sargo, Pengamat Otomotif, tanggal 27 Januari di Jakarta

Ada rencana membuat mobil nasional 500 cc. Apakah bisa bersaing?

Sebetulnya, kebutuhan Indonesia begitu besar, dari Jaguar di kota besar sampai yang paling sederhana di pelosok-pelosok. Jadi peluang pasarnya ada, karena kalau kita lihat di daerah-daerah, daya belinya sangat rendah dan juga kondisi infrastruktur masih sangat sederhana. Yang penting, pola transportasi atau pola penggunaan kendaraan berbeda dengan yang ada di kota-kota. Kalau di desa, mereka menggunakan kendaraan tidak hanya untuk pribadi tapi juga untuk mengangkut barang. Masuk ke sawah-sawah. Sehingga, akan sangat bermanfaat kalau ada kendaraan yang membantu dalam kelas harga maupun dalam fungsinya. Sebagai contoh di Jepang. Waktu Jepang baru selesai perang, ada kendaraan-kendaraan kecil, bahkan bemo, seperti Mazda kotak dsb. Demikian juga di India dan Thailand. Jadi kalau dilihat dari situ, seharusnya peluang pasarnya ada.

Apakah tidak akan bersaing dengan mobil sejenis yang cc-nya sama, yang akan datang dari Cina?

Itu juga menarik untuk dilihat. Namun untuk sementara ini, nampaknya belum ada. Pemain-pemain ini lebih banyak memperhatikan segmen sedan yang di atas 1500cc, itu satu. Yang kedua, China misalnya, sekarang lebih banyak memperhatikan pasar dalam negerinya yang sudah mencapai 4 juta dalam setahun. Walaupun daya beli masyarakat China masih agak rendah, permintaan begitu besar. Pemain-pemain otomotif dunia juga tidak meminati yang (cc-nya) kecil-kecil ini.

Apakah program ini membutuhkan proteksi dan dukungan penuh dari pemerintah?

Saya melihatnya bukan proteksi seperti yang berlaku dulu, tapi lebih pada pengembangan pasar. Misalnya, KUD dan usaha kecil mendapat fasilitas yang lebih baik untuk memiliki kendaraan. Kalau fasilitas dari sisi perpajakan saya kira itu sudah karena semua diproduksi di dalam negeri. Ada sebagian kecil yang diimpor tapi bea masuknya rendah. Sebentar lagi pasti nol dan karena itu tidak akan terkena pajak barang mewah hanya PPN saja. Jadi dalam konsep seperti itulah yang dimaksudkan sebagai proteksi. Kalau saya mengatakannya prioritas.

Bagaimana political will dari pemerintah karena ini sekarang ‘kan menjadi RUSNAS?

Yang masih ditunggu adalah kesinambungan dari program RUSNAS sampai ke kebijakan industri dan perdagangannya. Nah, ini yang belum. Itu urusannya kabinet.

Kalau melihat daya beli masyakarat, mobil dengan harga berapa yang mampu terserap oleh pasar?

Sekarang kalau dilihat pasarnya, kira-kira 70% penjualan ada di Jabotabek dengan harga rata-rata antara Rp150-200 juta. Artinya, masyarakat tipikal di Jabotabek sudah mampu membeli mobil dengan harga tersebut. Dan kalau kita lihat dari GDP regional, ada daerah yang kaya dan daerah yang terbelakang. Kalau harganya antara Rp100-150 juta, pasarnya terbatas di daerah yang sudah maju atau di kota-kota besar. Sementara di daerah-daerah, saya yakin mereka kurang tertarik. Kalau harganya bisa di bawah Rp50 juta saya rasa akan sangat kompetitif.

Ada kemungkinan bersaing dengan produsen lain seperti dengan Daihatsu Ceria yang 800cc?

Itu teknologinya beda. Kalau yang murah (teknologinya) masih sangat sederhana, tidak pakai karburator, tidak pakai AC, dan bodinya juga disederhanakan. Sejauh itu manfaat proyek ini harus didukung karena dulu ada Maleo. Yang menentukan nanti adalah pasar. Sekarang, bagaimana menumbuhkan pasar dengan memberi prioritas dan pengarahan-pengarahan.

Spesifikasi Mesin “Mobil Indonesia”

Tipe mesin: Bensin 4 langkah, 2 silinder SOHC, 2 valves

Total kapasitas silinder: 485 cc

Bore X Stroke: 65,5 mm X 72 mm

Rasio kompresi: 9:1

Tenaga maksimal: 23 kW (31 HP)/4000 rpm

Torsi maksimal: 55 Nm/3000 rpm

Putaran mesin (Rpm) maksimal: 6000 rpm

Langsam (idle speed): 700 rpm

Klep masuk (intake valve): 31,8 mm

Klep pembuangan (exhaust valve): 27 mm

Bahan baku blok silinder: AI (AC4B)

Bahan baku kepala silinder: Al (AC4B)

Sistem pendingin: Air

Sistem pengapian: CDI Distributor Less

Sistem bahan bakar: Karburator (pompa bahan bakar elektris)

Kapasitas oli: 3 liter

2010 Lexus IS C Luxury Cars

2010 Lexus IS C Luxury Cars2010 Lexus IS C Luxury Cars
2010 Lexus IS C Executive Cars2010 Lexus IS C Executive Cars
2010 Lexus IS C Compact Cars2010 Lexus IS C Compact Cars

SLS AMG, Supersport From Mercedes Benz

This is the Mercedes-Benz products are positioned at the top of the pyramid products. He once made an icon greatness premium car manufacturers from Germany are in the segment SupersPort.

Gullwing sensation. Pengemar or lovers of Mercy would have known this one product, SLS AMG. Typical of him, the door opened like a seagull wings when flying (gullwing). This car has never been disclosed to the public during its debut at the Internationale Automobile Ausstellung (IAA) to-63 in Germany, September last year. MB also shows the concept of SLS as an electric car to compete with Audio e-Tron.

Assembly processes carried out by skilled hands and experts in the largest factory in Sindelfingen Mercy. In order for consumers to know the progress of production of cars that will be launched on March 27 this coming, Mercedes-Benz continues to provide information.

Evidence of Mercy luxury product that is shown in one banderolnya. In Germany, SLS AMG sells for 177,310 eruo (including tax). If converted to dollars, nominal is USD 2,340,492,000 or approximately USD 2.35 billion.

Well, can imagine, if there is an Indonesian who was so infatuated with this car, he must be willing to back out the tax so the price to 200 percent of the original, could even more! At the very least, he must transfer the bank accounts of about USD 5 billion to get it. Wuiih!

In fact, high prices do not reduce the interest some people to buy it. Despite the economic crisis has not recovered completely, Dr Joachim Schmidt as head of Sales and Marketing Mercedes-Benz Cars said, the demand for SLS AMG exceeded the target. "This proves that our product is very popular one," he admitted.

Technology & performance. Not only a sensational performance, the technology conceived and capabilities are also great. Components such as context, the cell body, and the machine is made of aluminum. Remarkably again, this car is also assembled by hand.

Aluminum chassis and body made by Fahrzeugthechnik GmbH Magna Steyr in Graz, Austria. Innovation company to produce the framework of weighted 241 kg.

Machines also assembled by hand in the workshop AMG, Affalterbach. Engine capacity of 6.3 liters, V8, capable of producing 420 kW power (551 PS) and 650 Nm of torque. To maintain the quality of the machine, apply the principle of one MB of installed machines by one person!

SLS ability AMG is also great. With the weight distribution front / rear 47/53 and posture flat car, this car is claimed capable of 0-100 sprint in 3.8 seconds kpj. For security reasons, this car fitted with electronic speed limiting top speed is only 317 kpj. As for fuel consumption in combination, 13.2 liters per 100 km or an average of 7.5 km / liter.

Ability is obtained through the 7 speed transmission with double clutch, sport suspension, and double-wishbone made from aluminum. The weight of the total based on DIN standard, 1620 kg.

"When built in Sindelfingen, means of production and product quality is very high. Hence, SLS AMG assembled here, "beber Dr Dieter Zetsche, Chairman of Daimler AG and CEO of Mercedes-Benz Cars.

Honda Odyssey Launch Gen-4

Good news for luxury MPV Pengemar fanatical middle-passenger Honda 7, the Odyssey. The fourth generation of Honda MPV will be launched in next May in Indonesia by his ATPM, PT Honda Prospect Motor. This information is obtained from the nearest Kompas.com Honda.

Actually, Odyssey launch in Indonesia was a year delay. The reason, HPM memasokkan planned this latest version at the beginning of the year. However, because the recession engulfing the world and get swept Indonesia, HPM was postponed.

Now, with the economy getting better, selling cars these days continues to increase, Honda decided to get this middle MPV market. Machines used the same capacity Odyssey CR-V and 2.4-liter Honda Accord. As for transmission, automotive CVT with torque converter. During the 2009 Honda Odyssey does not sell at all, whereas in 2008 only 3 units.